Tanggung Jawab

Please note! Tulisan ini saya tulis untuk pembaca dewasa yang membaca blog saya.

Photo merupakan dokumentasi pribadi.

Dear kakak-kakak dan adik-adik yang saya cintai. Para pembaca blog saya yang setia.

Posting kali ini saya dedikasikan kepada para bayi-bayi diluar sana yang digugurkan, dibuang, dan tidak diakui oleh kedua orang tuanya.

Miris rasanya melihat berita mengenai bayi yang dibuang oleh orang tuanya sendiri, ingin rasanya saya bilang dan protes ke yang punya semesta.

Setiap melihat, mendengar ataupun membaca sebuah berita mengenai diketemukannya sesosok mayat bayi di selokan, atau di kali, atau yang lebih aneh lagi di dalam kulkas dibuang oleh orang tua mereka.

Pikirku dalam hati, berita mengerikan seperti itu yang selalu membuat saya terenyuh dan langsung pindah bahan bacaan, bahan tontonan dan lain sebagainya.

Kenapa sampai terjadi seperti itu? Batin sayapun tak hentinya bertanya pertanyaan yang sama setiap kali teringat ataupun bersinggunganmembaca berita-berita mengenai bayi-bayi yang mungkin harus tega dibuang ataupun di terlantarkan.

Mungkinkah MALU menjadi jawabannya?

Entahlah, saya juga tidak tau.

Belum SIAP?

Bila belum siap, mengapa melakukannya dengan cara yang tidak aman?

Karena alat kontrasepsi begitu tabu bahkan untuk digunakan?

Tak ada yang mau BERTANGGUNG JAWAB?

Entahlah, jika belum siap bertanggug jawab, kenapa tidak melakukan sesuatu yang positif saja?

GUNJINGAN MASYARAKAT?

Entahlah! Saya tidak bisaberkata banyak disini.

HARUS DIBUANG / DI TERLANTARKAN

Haruskah? Apakah tidak ada jalan yang lain? Setidaknya bila memang tidak diinginkan carilah cara lain yang lebih bermartabat ketimbang harus dibuang.

Sebagai contoh :

1. Carilah calon orang tua adopsi bila memang sudah bulat tidak menginginkan bayi tersebut.

Saya yakin banyak sekali pasangan yang sudah menikah lama dan sangat mengidamkan memiliki keturunan. Namun apa daya Pencipta berkata lain. Saya yakin lebih dari banyak dan tak terhitung dengan jari.

2. Titipkanlah di panti asuhan. Dengan harapan kelak akan ada yang mengadopsinya.

Saya pribadi sebagai orang tua dari bayi berumur 10 bulan sangat tidak tega melihat bayi baru berumur beberapa hari yang diterlantarkan oleh orang tuanya sampai masuk ke dalam dunia pemberitaan.

Apakah kalian tidak merasa teriris hatinya, hai para ibu/bapak yang berani berbuat namun minim tanggung jawab melihat bayi kalian tak bernyawa di layar kaca ataupun di foto yang terpampang pada lini masa?

Entahlah saya tidak mengerti, ingin rasanya berbuat banyak mengenai kasus bayi yang dibuang di negeriku tercinta.

Tidak ingin membandingkan dengan negeri yang saya tinggali sekarang, namun setidaknya ada rasa tanggung jawab yang lebih besar disini.

Juga keterbukaan yang lebar serta sarana dan prasarana konseling yang begitu banyaknya tak khawatir juga malu seharusnya dengan hasil ena-ena yang takut untuk di pertanggung jawabkan.

Ah ya beda budaya mereka bilang. Beda rasa tanggung jawab juga.

Saya salut kepada para orang tua tunggal yang dengan gagah berani merawat, melindungi, bahkan menyayangi anak mereka dari hasil hubungan tak bertanggung jawab dari sebelah pihak ketimbang dibuang dan di terlantarkan begitu saja.

Entahlah, mungkin tulisan ini hanya sebuah tulisan terbawa emosi yang saya tidak mengerti sama sekali motif dibalik para orang tua yang dapat mempertanggung jawabkan perbuatan yang sudah mereka buat dan hasil dari yang mereka buat serta menyia-nyiakan karunia sang pencipta.

Pesan : Teruntuk kamu hai calon ibu diluar sana yang sedang berfikir atau terfikir untuk membuang bayimu yang kau kandung selama 9 bulan didalam tubuhmu.

Berfikirlah dan berfikirlah. Jernihkan fikiran dan hatimu dari amarah yang seharusnya tak kau limpahkan kepada mahluk kecil yang sedang berkembang di tubuhmu.

Tenangkan hatimu, Mungkin memang pencipta menitipkanmu sebuah anugerah indah yang manusiapun tak akan dapat menciptakannya.

Jika sudah bulat tekatmu, pertimbangkanlah kembali cara yang ingin kau tempuh, sebuah cara yang mungkin akan menghantuimu setiap detik tarikan nafasmu.

Untuk para pasangan yang belum terfikir akan beratnya konsekuensi sebuah tanggung jawab, hindarilah. Menurut saya itu merupakan jalan yang terbaik.

Untuk calon ayah yang nyali tanggung jawabmu hanya sebesar pasir di lautan, kau tau lelaki bertanggung jawab itu lebih macho ketimbang dengan lelaki mental tempe yang hanya ingin ena-enanya saja di kasur sambil menyalurkan hasrat birahi.

Belajarlah bertanggung jawab dengan apa yang kau perbuat. Jangan menghindar ataupun berlari.

Rasanya ini tulisan pertama yang membuat saya pribadi yang menulis merasa capek dan ngos-ngosan. Menguras emosi dan perasaan saya mengenai sebuah berita yang saya baca sekejap tadi.

Ah entahlah siapalah saya yang tak mengerti apa yang mereka rasakan, jadi saya sudahi saja tulisan ini.

Terimakasih sudah membaca.

Iklan

3 Comments Add yours

  1. shiq4 berkata:

    Klo di indonesia sudah banyak kasus bayi yang meninggal gara2 dibuang. Nggak tahu juga mbak didi, kenapa hal semacam itu bisa sampai terjadi. Padahal waktu nglakuin seneng-seneng aja. Mungkin pada dasarnya mental orang indonesia itu cemen2. Berani berbuat tapi nggak berani bertanggung jawab 😀

    Disukai oleh 1 orang

    1. Kasihan lihatnya sebenernya didi kak shiq4. Tapi ya mau gimana lagi.

      Suka

  2. Desfortin berkata:

    Sy jg miris. Ketidakberdayaannya menghadapi aib mmbuat org kalut dan berpikir pendek.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s